Rabu, 05 November 2014

Nyadran di Bluru Kidul

10 March 2010

Nyadran di Bluru Kidul

Upacara tasyakuran laut alias nyadran digelar masyarakat nelayan Desa Bluru Kidul, Kecamatan Kota, Sidoarjo, pada Ahad Wage, 7 Maret 2010. Upacara ini sudah berlangsung turun-temurun di kampung nelayan Sidoarjo itu pada bulan Maulid. Sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Masyarakat Bluru Kidul, yang sebagian besar nelayan kerang, bersyukur atas hasil laut selama setahun terakhir. Mereka juga berdoa, memohon berkah dari Yang Mahakuasa agar selalu mendapat hasil yang baik di tahun berikutnya. Ritual diawali prosesi dengan perahu dari Bluru Kidul ke Makam Dewi Sekadradu di Pantai Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran. Kampung di muara sungai, dekat Selat Madura, sekitar 10 kilometer dari Kota Sidoarjo.

MAKAM DEWI SEKARDADU: Dewi Sekardadu tak lain ibunda Sunan Giri, salah satu wali penyebar Islam di Pulau Jawa. Pesraean alias makamnya selalu menjadi rujukan para peziarah, khususnya para nelayan, di Kabupaten Sidoarjo. Di belakang kompleks makam, yang direnovasi Bupati Win Hendrarso, ada kali kecil. Sebagian peziarah turun di situ. Sebagian besar peziarah mendarat di dermaga, kemudian jalan kaki sekitar 500 meter. Kampung ini penuh tambak dan vegetasi khas pesisir, khususnya hutan bakau.



RITUAL DIMULAI: Jumat (5/3/2010) tengah malam, Irsyad, Suhardi, dan Anam, tiga tokoh nelayan sekaligus kiai kampung, memimpin doa di belakang Makam Sekardadu. Sebelumnya, sesajen sudah dilarung di belokan sungai. Doa secara Islam ini memohon agar Tuhan melindungi warga Bluru Kidul, memberi rezeki bagi masyarakat nelayan. Juga agar jalannya arak-arakan perahu pada Ahad Wage berlangsung aman.




PENGAJIAN: Setelah mengaso dan wudu, rombongan perintis yang berjumlah 20 orang mengadakan pengajian di dalam kompleks Makam Sekardadu. Sebelumnya, Pak Samadi, juru kunci makam, harus dibangunkan karena rupanya sedang tidur pulas. Maklum, sudah lewat pukul 01.00. Pengajian cukup lama dalam suasana sangat tenang. Suara jangkrik dan binatang-binatang malam terdengar jelas.




BANCAKAN: Menikmati tumpeng yang dibawa dari Bluru Kidul. Hidangan khas wong kampung: nasi, ayam panggang, lalapan, peyek, krupuk... Makan bareng-bareng lambang kebersamaan. Asyik juga makan bersama di kampung paling terpencil di Kabupaten Sidoarjo itu.




SIAP BERANGKAT: Ahad pagi, rombongan dilepas Wakil Bupati Sidoarjo Saiful Ilah. Pak Saiful ini juga dikenal sebagai salah satu 'raja tambak' di Sidoarjo. Ada 50-an perahu rame-rame berlayar ke Kepetingan. Keluarga nelayan, mulai anak-anak, remaja, ibu-ibu, ikut serta. "Tahun ini kalah banyak sama tahun kemarin. Jumlah perahu hanya separonya karena ekonomi lagi sulit," kata Haji Waras, koordinator nelayan Bluru Kidul. Kita bisa menikmati pemandangan sungai yang indah meski kurang bersih. Di mana-mana sungai jadi tempat orang membuang sampah.




TIBA DI KEPETINGAN: Setelah berlayar hampir satu jam, maklum kecepatan rendah, rombongan nyadran turun di dermaga Kepetingan. Dermaga sangat sederhana. Lantas, jalan kaki ke Makam Sekardadu. Warga Kepetingan menyambut ramah.




TUMPENGAN: Masing-masing keluarga nelayan membawa tumpengan untuk didoakan bersama di pesarean.




PENGAJIAN: Puncak nyadran Bluru Kidul adalah pengajian di kompleks Makam Dewi Sekardadu. Peserta juga secara bergantian nyekar dan menyentuh makam ibunda Sunan Giri alias Raden Paku alias Syeh Maulana Iskak alias Joko Samudra itu. Pengajian cukup lama. Yang tidak ikut pengajian bisa ngopi di warung sederhana di samping makam. "Saya pesan Sprite. Pakai es batu," pinta saya. Lumayan, siang itu si pemilik warung panen raya. Sayang, nyadran hanya setahun sekali. Coba kalau nyadran tiap minggu? Hehehe....

Upacara selesai. Rombongan kembali ke perahu masing-masing. Lantas, berlayar setengah jam lagi ke laut Selat Madura, larung tumpeng utama, dan kembali ke Bluru Kidul. Besoknya ada lomba dayung perahu, orkes dangdut, dan pengajian umum.



sumber : http://hurek.blogspot.com/2010/03/nyadran-di-bluru-kidul.html

Nyadran Kabupaten Sidoarjo

NyadranAset Pariwisata Sidoarjo
Oleh : Nyonik Adiwarno
Di Indonesia khususnya di Jawa pada bulan Ruwah (kalender Jawa) ada tradisi yang dinamakan ruwatan. Bentuk-bentuk Ruwatan ini dapat berupa bersih desa, ruwah desa atau lainnya. Di Sidoarjo, tepatnya di Desa Balongdowo Kecamatan Candi ada tradisi masyarakat yang dilakukan setiap bulan Ruwah (pada saat bulan purnama).
Tradisi tersebut dinamakan pesta nyadran. Nyadran merupakan upacara adat bagi para nelayan kupang desa Balongdowo sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa. Bentuk kegiatan nyadran berupa pesta peragaan cara mengambil kupang di tengah laut Selat Madura. Mereka berangkat dengan diiringi seluruh keluarga nelayan sejak tengah malam.
Berbeda dengan acara petik laut di Banyuwangi, Larungan di Blitar atau Labuhan di Malang, maka Nyadran di Sidoarjo mempunyai kekhasan tersendiri. Kegiatan Nyadran dilakukan oleh masyarakat desa Balongdowo yang mata pencahariannya sebagai nelayan kupang. Sejak siang mereka disibukkan oleh persiapan pesta upacara, yang upacaranya dimulai tengah malam.
Laki-laki, perempuan, besar kecil semuanya melakukan kegiatan sesuai tugas masing-masing. Ada yang menghias perahu, memasang sound system dan sebagainya. Khusus Ibu-ibu melakukan kegiatan menyiapkan makanan yang akan dibawa ke pesta upacara Nyadran di Selat Madura serta menyiapkan Sesaji. Sesaji yang disiapkan berupa ayam panggang, nasi dan pisang serta kue dimasukkan dalam tomblok. Kegiatan persiapan ini berlangsung sampai sore hari dilanjutkan kenduri di masing-masing rumah nelayan kupang usai shalat maghrib.
Pada malam hari di sepanjang jalan dan tepian sungai desa Balongdowo suasananya sangat ramai dipenuhi oleh masyarakat dan pedagang kaki lima baik dari penduduk setempat maupun dari luar kecamatan Candi, sehingga kedengaran hiruk pikuk dibarengi para remaja berjoget di atas perahu.
Uniknya meski hujan mengguyur mulai sore hari, tidak menjadi penghalang bagi para pengunjung bahkan semakin malam semakin berdesakan untuk menyaksikan pemberangkatan iringiringan perahu menuju ke pesta Nyadran di Setat Madura. Pemberangkatan bergantung padakeadaan air sungai. Bila air sudah surut iring-iringan perahu dapat diberangkatkan. Jumlah perahu yang mengikuti pesta Nyadran tahun ini sekitar 50 perahu.
Perjalanan dimulai dari Bandar Balongdowo, Candi menempuh jarak sekitar 12 km menuju Dusun Kepetingan, Sawohan, Buduran. Suasana perjalanan menyenangkan walaupun dinginnya malam menusuk tulang disertai guyuran hujan. Hanya lampu-lampu petromak dalam perahu dan sorot lampu senter sebagai petunjuk jalan. Dalam suasana tersebut tidak hentihentinya anak-anak muda berjoget di atas perahu seakan tak merasa dinginnya malam. Perjalanan ini melewati sungai Desa Balongdowo, Klurak, Kalipecabean, Kedungpeluk dan Kepetingan (Sawohan). Masyarakat berderet di tepian Bandar kali Balongdowo untuk menyambut acara pemberangkatan iring-iringan perahu dengan antusias dan meriah. Ini menunjukkan bahwa Nyadran mendapat simpati dan perhatian dari masyarakat kecamatan Candi khususnya masyarakat Desa Balongdowo dan sekitarnya. Ketika iring-iringan perahu sampai di muara Kalipecabean, perahu yang ditumpangi anak balita membuang seekor ayam. Konon menurut cerita, dahulu ada orang yang mengikuti acara Nyadran dengan membawa anak kecil tersebut mengalami kesurupan. Oleh karena itu, untuk menghindari hal tersebut masyarakat Balongdowo mempercayai bahwa, dengan membuang seekor ayam yang masih hidup ke Kalipecabean maka anak kecil yang mengikuti Nyadran akan terhindar dari kesurupan malapetaka.
Sekitar pukul 04.30 BBWI peserta iring-iringan perahu tiba di Dusun Kepetingan, Sawohan. Rombongan peserta Nyadran langsung menuju makam Dewi Sekardadu untuk mengadakan kenduri. Sambil menunggu fajar tiba, peserta Nyadran tersebut berziarah, bersedekah dan berdoa di makam tersebut agar berkah terns mengalir. Menurut cerita rakyat Balongdowo, Dewi Sekardadu ini putri Raja Blambangan bernama Minak Sembuyu, yang pada waktu meuinggainya dikelilingi “ikan keting”, maka dusun tersebut dinamakan Kepetingan tapi orang-orang sering menyebut Dusun Ketingan. Pada pagi harinya, sekitar pukul 07.00 BBWI usai  mengadakan selamatan, perahu menuju Selat Madura dengan membentuk lingkaran, sedangkan peserta Nyadran turun untuk mandi dan memperagakan cara mengambil kupang. Tidak seperti yang kita bayangkan sebelumnya, kedalaman Selat Madura temyata cukup dangkal sehingga anak-anak pun dapat turun ke laut untuk sekedar mandi ataupun ikut mencoba mencari kupang.
Setelah dari makam Dewi Sekardadu, perahu-perahu itu menuju ke selat Madura sekitar 3 km. Perjalanannya cukup menarik bagi rnsyarakat yang belum pernah mengikuti pesta nyadran sebab di sisi kiri dan kanan perahu dipenuhi dengan tumbuhan bakau yang dihiasi panorama terbitnya sinar matahari. Sering dijumpai burung bangau berterbangan terusik oleh deru mesin perahu.
Suasana lain yang menambah semaraknya peragaan cara mengambil kupang adalah anak-anak muda dengan perahunya berputar-putar sambil berjoget seakan-akan tidak merasa lelah. Bagi Ibu-ibu dan anak-anak kecil dengan lahapnya menyantap bekal yang telah disiapkan dari rumah sambil melihat remaja-remaja berjoget dan melihat orang-orang turun ke laut dengan disertai hembusan angin laut. Cukup mengesankan jika dilihat dari kejauhan, berpuluh perahu dengan warna-warni hilir mudik di tengah laut. Tidak seorang pun tampak susah, semua bergembira, berjoget berpesta dan makan bersamasama di atas perabu. Itulah oleh masyarakat Balongdowo dinamakan “NYADRAN”.
Sekitar pukul 10.00 BBWI, iring-iringan perahu tersebut mulai meninggalkan selat Madura. Kemudian mereka kembali ke desa Balongdowo. Sepanjang perjalanan pulang, ternyata banyak masyarakat berjajar di tepi sungai menyambut iring-iringan perahu tiba. Mereka minta berkat/makanan yang dibawa oleh peserta nyadran harapan agar mendapatkan berkah.
Mengikuti pesta nyadran ternyata cukup menyenangkan dan mengesankan. Banyak kegiatan dari nyadran dapat dikembangkan sebagai obyek pariwisata si kabupaten Sidoarjo. Misalnya saja proses membuang ayam, ziarah ke makam Dewi Sekardadu, pemandangan butan bakau dan mandi di tengah laut sambil mencari kupang. Sebenarnya ada proses dari nyadran, yaitu “Melarung Tumpeng”. Proses ini dilakukan di muara/clangap (pertemuan antara sungai Balongdowo, sungai Candi dan sungai Sidoarjo). Proses ini tidak diadakan setiap kali nyadran. Melarung tumpeng ini diadakan bila ada peserta nyadran atau nelayan kupang yang mempunyai nadar/khaul. Potensi wisata ini bila dikembangkan dan dikemas dengan baik bukan tidak mungkin akan dapat menambah Pendapatan Asli Daerah.
Mengembangkan dan mengemas nyadran menjadi obyek pariwisata bukannya tidak mempunyai tantangan dan hambatan-hambatan. Masih ada kekurangan dan kelemahan-kelemahan dalam nyadran irri yang perlu dibina dan ditingkatkan. Misalnya saja koordinasi pelaksanaan nyadran meliputi proses/kegiatan, penertiban peserta nyadran terutama para pemuda yang membawa minuman keras, meningkatkan nilai-nilai ritual nyadran. Bila nyadran dapat disajikan sebagai obyek wisata, maka merupakan obyek wisata bahari yang pertama di Sidoarjo(*)

Tari Solah Ketingan

TARI SOLAH KETINGAN

20130324_173019 copy
Tari Solah Ketingan diciptakan oleh Agustinus, S.Sn. Tari ini mengambil inspirasi dari sebuah desa pesisir di Sidoarjo, Jawa Timur yang terpencil namun memiliki sejarah tersendiri, yaituDesa Kepetingan (Ketingan). Ikon sejarah desa ini yaitu Putri Ketingan alias Dewi Sekardadu yang adalah Ibunda dari Sunan Giri. Nama Putri Ketingan dimasukkan ke dalam lirik tari Solah Ketingan untuk lebih memperkuat isi dari tari ini.
Tari ini di dominasi dengan gerak-gerak riang, lincah, tegas dan ayu yang mungkin tujuannya untuk menunjukkan bahwa warga desa Kepetingan adalah warga yang riang dan kuat meskipun mereka hidup di wilayah pesisir yang terpencil. Terinpirasi dari jiwa Dewi Sekardadu yang pantang menyerah ketika ingin menyelamatkan anaknya yang dibuang di laut.

Kesenian Sidoarjo

Kesenian di Sidoarjo

Kesenian tradisional (rakyat) yang banyak berkembang dalam wilayah budaya Arek adalah Ludruk, Wayang Kulit Jawa Timuran (Wayang Jek Dong), Tayub, Jaranan, dan berbagai kesenian bercorak Islam seperti dibaan, terbangan, hadrah, dan sebagainya. Sementara kesenian modern berkembang di pusat kota. Dan meski bukan menjadi ciri kesenian di wilayah budaya Arek, di Sidoarjo juga terdapat wayang Potehi (pengaruh kesenian China).
Dalam perspektif interaksi sosio-ekonomi dan kultural antara Surabaya dan kota sekitarnya inilah maka perkembangan kesenian di Kabupaten Sidoarjo banyak dipengaruhi oleh Surabaya. Unsur budaya Arek, seperti budaya Mataraman dan komunitas Nahdliyin, merupakan 2 unsur terbesar dalam masyarakat Sidoarjo. Pengaruh budaya Islam di Sidoarjo nampak dari banyaknya masyarakat Islam Nahdliyin yang pada akhirnya melahirkan seni Samroh, Dibaan, Terbangan, Yasinan, dan Hadrah. Sedangkan pengaruh Mataraman nampak dari seni wayang kulit. Di Sidoarjo juga terdapat ludruk, seperti di Surabaya, Mojokerto, dan Jombang. Namun Sidoarjo juga dipengaruhi oleh budaya pesisiran, yang memunculkan ekspresi kesenian tersendiri di kawasan timur.
Kesenian tradisional Sidoarjo jenisnya hampir sama dengan kesenian tradisional Surabaya seperti ludruk, ketoprak, hadrah, wayang kulit, dan sebagainya. Hanya saja frekuensi aktivitas dan jenis kesenian tradisional Surabaya lebih banyak daripada Sidoarjo. Banyak kesenian tradisional Sidoarjo dimainkan (ditanggap) di Surabaya. Begitu pula sebaliknya kesenian tradisional Surabaya pernah main di Sidoarjo. Kesenian tradisional itu biasanya main di tempat orang hajatan, bagian dari acara hiburan dalam rangka memperingati hari nasional atau hari kota/kabupaten, untuk kepentingan komersial seperti main di lapangan berhari-hari, main di gedung kesenian seperti THR (Taman Hiburan Rakyat) di Surabaya, dan sangat sedikit frekuensinya yang bermain untuk acara apresiasi seni.
Kesenian tradisional itu biasanya diturunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya tanpa perubahan yang berarti. Karena itu jenis dan pola kesenian tradisional dari waktu ke waktu cenderung tidak berubah. Faktor statis inilah yang menyebabkan kesenian tradisional dalam pola perkembangannya sesuai dengan pola budaya kewilayahan. Secara kultural, kewilayahan kesenian tradisional Sidoarjo bagian besar dari budaya Mataraman yang menyebar dari Ngawi, Kediri, Madiun, Nganjuk, Mojokerto, hingga Sidoarjo. Kesenian tradisional Sidoarjo secara kultural banyak dipengaruhi budaya Mataraman sedangkan secara kewilayahan juga dipengaruhi budaya Arek.
Sedangkan kesenian modern Sidoarjo berkembang menyerupai perkembangan kesenian modern Surabaya. Banyak seniman modern yang studi di beberapa perguruan tinggi di Surabaya dan Jogjakarta. Pelukis Hening Purnamawati, Rilantono, Nonot Sukrasmono, Sinarto, Amdo Brada, R. Giryadi, Farid Syamlan, Nasar Bathati dan Chusnul Hadi, adalah sebagian dari seniman-seniman yang berdomisili di Sidoarjo namun lebih banyak aktif di Surabaya. Banyak juga seniman yang berkembang secara otodidak dan memperoleh pengetahuan dari pergaulan dengan seniman senior meskipun sebenarnya lulus dari fakultas bukan kesenian, utamanya para sastrawan. Mereka adalah Suharmono Kasiyun, almarhum Max Arifin pernah tinggal di Sidoarjo yang akhirnya meninggal di Mojokerto.
Seniman modern Sidoarjo juga banyak yang berkembang lewat studi di sanggar atau kelompok seni dari Surabaya. Biasanya model seniman ini berkembang pesat dari pengaruh pergaulan dengan berbagai seniman nasional dan intensif dalam pameran lukisan. Misalnya saja, pelukis seperti Wadji MS, Beni Dewo, dan Bambang Hariadji (alias Bambang Telo). Sementara penulis sastra (puisi) Roesdi Zaki adalah anggota senior Bengkel Muda Surabaya merupakan penulis sastra yang cukup produktif.
Akibat perkembangan kota Sidoarjo yang sedemikian pesat, banyak dibangun kompleks-kompleks perumahan baru. Hal ini banyak mengundang para pendatang dari Surabaya yang yang kemudian menjadi penduduk Sidoarjo namun aktivitasnya tetap di Surabaya. Tidak terkecuali kalangan seniman. Sehingga, banyak seniman Sidoarjo lebih aktif berkesenian di Surabaya daripada di kotanya sendiri. Mereka hanya bertempat tinggal di Sidoarjo. Karena itu aktivitas kesenian modern di Sidoarjo relatif lebih sedikit daripada Surabaya. Bahkan Dewan Kesenian Sidoarjo secara formal baru dibentuk pada tahun 1994, sementara Dewan Kesenian Surabaya telah berdiri sejak tahun 1971.
Tetapi keberadaan seniman-seniman yang hanya “numpang KTP” di Sidoarjo itu tidak perlu disikapi secara sinis. Tuntutan pekerjaan memang mengharuskan mereka lebih banyak aktif di Surabaya, disamping iklim berkesenian di Surabaya memang lebih kondusif dibanding Sidoarjo. Lagi pula, Surabaya tidak bisa semata-mata hanya dipandang sebagai luar kotanya Sidoarjo, tetapi Surabaya adalah ibukota propinsi Jawa Timur. Justru Sidoarjo harus bangga karena banyak senimannya yang berkiprah di tingkat propinsi, termasuk tingkat nasional di Jakarta dan internasional kalau ada, dan bukan malah menjadikan mereka sebagai jago kandang yang hanya sibuk di kotanya sendiri saja.
Dan kalau mau menelusur agak ke belakang, Sidoarjo pernah punya penyanyi terkenal, namanya Arie Kusmiran. Pelawak Doyok Sudarmaji itu juga asalnya dari Porong, juga Basman (alm) dan Agus Kuprit serta Munali Patah (alm).

Tari Banjar Kemuning

TARI BANJAR KEMUNING

Tari Banjar Kemuning diciptakan oleh Agustinus,S.Sn. Tari ini mengambil inspirasi dari sebuah desa yang terletak di wilayah Sidoarjo, Jawa Timur yaitu Desa Banjar Kemuning. Desa ini adalah desa pesisir dimana masyarakatnya menggantungkan hidup sebagai nelayan. Tarian ini menggambarkan kehidupan para istri nelayan yang tegar, kuat, namun juga luwes menghadapi sulitnya hidup ketika ditinggal para suaminya berlayar. Selalu memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa dalam kesehariannya.
Kostum Tari Banjar Kemuning Terdiri dari rok yang bisa melebar dan atasan tali leher serta cunduk melintang di atas sanggul kepala. Sekilas terlihat seperti tata rambut ala budaya china. Tari ini juga menggunakan gongseng seperti Remo. Warna kostum yang original adalah warna biru-kuning seperti tampak pada foto di atas. Namun kini telah ada modifikasi dengan warna-warna lain seperti Pink dan Ungu.  Dibandingkan dengan tari-tari lainnya, tari Banjar Kemuning tampak minim dengan aksesoris seperti kalung dan gelang, namun mungkin inilah ciri khas untuk menggambarkan kesederhanaan masyarakat Banjar Kemuning dan dengan menambahkan gongseng, menambah kesan kekuatan dalam setiap langkah kaki seperti yang tergambar dalam tari Remo.

Selasa, 04 November 2014

Tim Blog Pembelajaran Antropologi Sma 2 Sidoarjo

1. Guru pembimbing  : Drs. Soegiarto, S.Pd. M.Pd
2. Operator blog        : Krisna Puspa Bhuana
3. SieDokumentasi    : Almira Shabrina
4. Pengumpul data     : Visa Tsabita R.K
5. Teknisi IT              : M.Rizki Rifa'i S
6. SieKliping              : Putriana Puspitasaari

Salam Antropologi

Alhamdulillah pada hari ini Rabu, tanggal 05-11-2014 (23 pon 12) blog pembelajaran Antropologi kelas X-IBB 2014/2015 tercipta.

Blog ini tercipta karna keinginan anak-anak kelas X-IBB 2014/2015 dan guru pengajar ingin memahami dan selanjutnya mencintai bangsa Indonesia dan budayanya karna ada rasa keprihatinan makin pudarnya kebradaan budaya lokal maupun budaya nasional di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang makin sibuk dengan fenomena makin derasnya arus informasi budaya dari negara asing.

Semoga melalui blog ini dapat memberikan kontribusi kecintaan generasi muda Indonesia terhadap kehidupan sosial budaya bangsanya sehingga impian bangsa yang hebat dan bermatabat dapat terwujud di tengah-tengah masyarakat global yang sedang mengalami '' keingintahuan terhadapt keIndonesiaan bangsa Indonesia ''
Salam Antropologi (Soegiarto)